Showing posts with label daily. Show all posts
Showing posts with label daily. Show all posts

Friday, December 5, 2008

Bangga sama ayah (ssst...tapi jangan kasitau ke ayah ya...)

Persiapan pernikahan saya dan Si Aa berjalan tersendat-sendat, perlahan-lahan, seperti mobil yang padat merayap di Pasar Ciputat. Sepertinya ayah kurang memberikan respon yang antusias terhadap segala tetek-bengek pernikahan ini. Berbeda sekali dengan keantusiasannya dalam mengatur dan mempersiapkan pernikahan anak teman-temannya. Entah kenapa. Tapi saya punya perkiraan, apa kira-kira penyebabnya. Mungkin salahnya ada pada saya. SAya yang masih punya hutang yang belum juga saya lunasi. Tapi entahlah... Yang jelas, apa pun alasannya, ada rasa nyeri yang kadang melintas di hati ini. Sedikit saja, tapi lalu cepat-cepat kutepis. Pasti ada alasan yang bagus.....pasti...

Hingga kini, 4 bulan menjelang hari besar itu, banyak hal yang belum dipastikan dan dilakukan. Saya mencoba melakukan semuanya sendiri, tapi susah juga ya, mengingat semuanya tergantung kepastian akan dananya. Mencari dan menghubungi vendor-vendor saya lakukan sendiri. Membanding-bandingkan satu dengan yang lain, juga saya lakukan sendiri. Juga menghitung ini dan itu.

Saya sempat bingung saat ayah meminta dibuatkan budgetingnya dan kemudian menyerahkannya pada beliau. Saya menolak. Karena bagi saya, itu akan terlihat seperti saya yang mengajukan proposal kegiatan. Seakan-akan saya lah yang minta pernikahan ini dirayakan, dengan cara seperti ini dan itu, dengan harga segini dan segitu. Padahal saya gak pernah meminta pernikahan dirayakan. Saya harus tahu diri. Saya hanya meminta dinikahkan saja, lalu syukuran kecil-kecilan. Tapi toh ayah sendiri yang menginginkan dirayakan, dengan alasan saudara dan kerabat saya banyak sekali, ditambah lagi saya adalah cicit dan cucu pertama dalam keluarga.

Ayah bersikukuh bahwa sayalah yang mengerti segala sesuatunya sehingga saya lah yang harus membuat perincian anggaran dananya. Ayah hanya menyebutkan kisaran nominal budgetnya, tapi sayalah yang merinci dan mengatur. Agak sulit juga membuatnya, karena saya toh harus menekan dana menjadi kecil...cil. Kadang saya merasa seperti menjadi WO (wedding organizer) dalam pernikahan ini, bukan sebagai calon pengantinnya. Ayah mau panitia pake ini itu, acara di gedung ini, tapi dananya segini, sehingga saya harus atur supaya cukup. Tapi okelah...saya buat. Hasilnya jauh dari sempurna sih, tapi cukup rinci sampai ke perkiraan harga bahan kebaya bagi panitia.

Sampai di sini, ternyata ayah belum juga mau membicarakan rencana-rencana pernikahannya.
Saya tetap saja ditinggalkan dalam keadaan bingung dan merasa sendiri.

Sejujurnya, saya menikmati pekerjaan-pekerjaan seperti ini. Tapi tetap saja ada rasa bingung yang menyertai. Kalau saja yang saya urus adalah pernikahannya orang lain, pasti saya gak akan sepusing dan se-emosional ini. Selain itu ada sedikit rasa iri dengan anak-anak teman-teman ayah yang lain, yang pernikahannya dari A sampei Z, atau dari H sampai Z diurus oleh ayah saya dan ayah mereka.

Untung ada Mama yang selama ini ada di samping saya. Yang walaupun juga kurang tahu banyak, tapi selalu menghibur. Kalau saya sudah mulai kesal, mama menenangkan. Mama bilang walaupun pahit tapi pasti ada gunanya untukku. Suatu saat, pasti ada gunanya.

Di sisi lain, saya sangat bangga dengan ayah. Suatu saat beliau bilang bahwa krisis global ikut berpengaruh pada perusahaannya. Tidak berpengaruh pada penghasilan ayah, untungnya. Tapi berpengaruh pada trainee-trainee dari kantor ayah. Cerita singkatnya begini:
Jepang adalah negara eksportir. Dikala keadaan ekonomi negara-negara pengguna produk jepang melemah, perekonomian Jepang justru kuat. Hal ini menyebabkan harga produk Jepang menjadi sangat tinggi bagi negara-negara kliennya. Singkat kata, produk Jepang jadi kurang laku lagi. Sehingga tingkat produksi Jepang menurun. Tenaga kerja dari Indonesia banyak yang nganggur jadinya. Akibatnya banyak trainee yang dipulangkan. Calon-calon trainee juga banyak yang dicancel keberangkatannya.

Nah kembali ke laptop, kalau sampai Januari nanti keadaan ini tidak juga membaik, maka pernikahan saya tidak akan dirayakan sesuai rencana sementara ini. Alasannya lebih kepada kepedulian sosial dan empati kepada para karyawan serta trainee-trainee itu, dan pada keadaan ini secara umum. Masak orang-orang lagi susah, kita malah pesta-pesta. Apalagi ayah memegang jabatan yang cukup tinggi di kantornya. Tidak mungkin ayah mengabaikan perasaan karyawan dan trainee-traineenya. Kita tidak boleh menutup mata, menutup telinga, dan tebal muka terhadap keadaan dan masalah yang menimpa orang lain. Kita harus berempati kepada mereka.

Subhanallah....saya bangga sama ayah. Alhamdulillah ayah saya bukan Nirwan Bakrie...alhamdulillah...

Gak papa Yah, saya gak papa kok kalo pernikahannya gak dirayain. Restu dan iringan doa dari mama dan ayah adalah hadiah terindah untuk saya. Masalah pesta, siapa sih yang gak mau.... Tapi insyaAllah, itu bukan prioritas bagi saya dan aa.


NB: ssst..jangan kasitau ke ayah ya kalo saya bangga. Kita berdua mah saling gengsian...

Wednesday, November 19, 2008

Penyusup di Kawinan Orang

Beberapa minggu lalu...

Si Saya, Rudi (sahabat), dan Ahra (adik bungsu) pergi ke kondangan kawan.
Rudi bertanya pada Si Saya sambil menyalakan Avanza hitam, "Ke mana kita pergi?"
Si Saya menjawab dengan yakin, "Balai Kartini, Gatot Subroto."

Meluncurlah mereka bertiga ke Gedung Balai Kartini untuk menghadiri pernikahan Chitta, salah satu teman Si Saya di milis keroncong. Sejujurnya, Si Saya juga belum pernah ketemu sama Chitta, bahkan sama sekali gak tau gimana wajah Chitta. Kunjungan ini sekaligus kop-dar (kopi darat) mereka yang pertama.

Sampailah mereka di Balai Kartini, gedung megah yang termasuk kelas high class sebagai lokasi pernikahan di Jakarta. Pestanya terlihat "wah" dengan tamu-tamunya yang juga berpenampilan. Tapi ternyata pas ngeliat karangan-karangan bunga yang mejeng di sana, kagetlah Si Saya, karena tulisannya adalah "Rika & Reza", bukannya "Chitta & Ziggy". OMG, Si Saya salah masuk gedung.

Dia sudah memutar badan, hendak keluar, tapi Ahra dan Rudi bilang, "Kita udah kelaparan banget nih. Makan dulu aja yuk. Nanti baru cari tahu di mana Chitta sebenernya."
Si Saya gak ada pilihan selain mengangguk, karena selain perutnya yang sudah salsa-an bahkan rock-an minta makan, dia pun gak tahu harus mencari Chitta di mana.

"Perasaan sih bener di Balai Kartini deh," Begitu pikir Si Saya.

Bodohnya, memang undangan yang hanya berupa hasil pindaian yang kemudian di-imelkan itu gak dibaca lagi, apalagi di print, oleh Si Saya. Dia sudah still yakin aja.

Sambil mencari info dan mengingat-ingat lokasi kondangan sesungguhnya, mereka bertiga--tanpa rasa malu--masuk lebih dalam ke gedung itu. Kasih angpao, tulis nama, dan celingak-celinguk lihat suasana. Gak mungkin lah salaman sama penganten. Jadi langsung saja menyambangi gubukan-gubukan yang ada.

Sayang beribu sayang, gedung yang berkapasitas hanya 1000-an orang ini jadi sesak karena dipadati orang yang jumlahnya melampaui kapasitas. Mau ke mana-mana, susah bergerak. Menu makanan yang "wah" didominasi dengan nama-nama makanan berbau Eropa, tapi sayangnya gak sesuai dengan rasanya yang "wih" (baca: gak enak..hehe).

Sejujurnya, perut Si Saya yang tadinya lapar, justru gak nafsu makan lagi. Mungkin lebih karena rasa bersalah sudah menyelinap ke pernikahan orang, sekaligus sibuk sendiri kasak-kusuk cari info dimana pernikahan Chitta yang sesungguhnya. Telpon sana telpon sini, tapi hasilnya nihil. Sampai akhirnya, di antara padat dan bisingnya ruangan itu, Si Saya memejamkan mata, mencoba mengingat dengan sangat-sangat khusyuk (kayak orang meditasi, tapi sambil berdiri) undangan dari Chitta. Kata kunci yang pertama: Gatot Subroto. Kata kunci yang kedua: Hotel. Kata kunci selanjutnya: kartini...ato kartika...

Ah ya!! Dapat!! Kartika Chandra!!

Si Saya langsung menarik tangan Rudi dan Ahra untuk diseret ke Kartika Chandra yang sama-sama terletak di Jalan Gatot Subroto. Harap-harap cemas, supaya kali ini lokasinya tepat. Gak tau kenapa, tapi Si Saya pengen banget ketemu Chitta.

Berbekal uang cadangan yang tinggal 50 ribu (karena uang yang seharusnya untuk Chitta, udah disetor ke undangan salah alamat tadi, yaaah...itung-itung biaya makan bertiga lah), mereka bertiga meluncur mundur, sambil sesekali lihat jam dengan panik karena sudah hampir jam 9 malam.

Tepat pukul 9 kurang lima belas menit, mereka bertiga sampai dan lega begitu melihat nama pengantinnya. Uang 50 ribu dimasukin ke kotak angpao setelah sebelumnya dibungkus tissue putih (soalnya, gada stok amplop lagi....). Ternyata acaranya udah sepiiii. Tinggal beberapa gelintir orang berkebaya dan berbeskap.

Jaln terburu-buru, Si Saya kaget melihat MC-nya....Ya ampuuun...itu kan Tante Mamiek Marsudi, kok bisa ketemu di sini. Cupika-cupiki, lalu langsung ke pelaminan, untuk ketemu sama Chitta. Gak lama sih, karena Chitta mau foto-foto. Gak papa lah, yang penting lega karena udah sempet memenuhi undangannya.

Tapi kaget juga, karena di sana bisa ketemu sama Mas Harry Suliztiarto dan istri. Ternyata Mas Harry itu Om-nya Chitta. Who is he anyway? Mas Harry itu penggagas panjat tebing modern pertama di Indonesia. Beliau "Bos"-nya Si Saya dan Si Aa di Skygers. Hhmm..ternyata dunia ini ya orangnya dikit kok, buktinya ketemu dia lagi, dia lagi.

pelajaran yang didapat pada hari itu:
1. Kalo mau ke undangan, periksa lagi undangannya, kalo perlu dibawa aja tuh undangannya. Jangan sok yakin dulu.

2. Sebaiknya bawa amplop lebih, ato bawa tissue aja kalo gak punya amplop, supaya bisa untuk ngebungkus uang angpao-nya kalo kepepet.

3. Wiken anda sunyi dan membosankan? Ditambah lagi perut anda lapar tapi gak mau makan di warteg? Kunjungi pernikahan terdekat, bawa uang secukupnya saja, lalu....SELAMAT MAKAN. Ini adalah cara mengusir lapar dan kesepian yang sangat-sangat baik....KALAU ANDA GAK TAU MALU.

Wednesday, November 5, 2008

Hari ke-2 belajar nyetir

Total baru dua hari saya belajar nyetir. Bukan nyetir bajaj, apalagi nyetir pesawat. Cukup belajar nyetir mobil saja. Memang sangat memalukan, di usia saya yang sudah xx tahun ini, kok baru belajar nyetir. Bukan karena takut, sodara-sodara (sumpeh lu..masa nyetir aje takut?!?!), tapi karena males saja. Rasa-rasanya kok orang yang bisa mereka nyetir mobil juga cool

Dipaksa-paksa, disindir-sindir, saya malah makin tebel kuping. Tapi belakangan ini keinginan untuk bisa nyetir tiba-tiba menggebu-gebu. Kasiaaan banget kalo liat mama kemana-mana harus nyetir sendiri. Apalagi kalau kami pergi berdua dan harus mama yang nyetir melulu, rasa-rasanya kok jadi anak yang gak tahu diuntung ya? Jadi merasa seperti pecundang saja.

So, sejak kemarin saya bulatkan tekad untuk mulai les nyetir di tempat kursus yang gak seberapa jaraknya dari rumah. Mumpung saya lagi bener-bener jadi pengangguran, sepertinya meluangkan waktu 10 hari saja tidak berat.

Hari pertama:
Belajarnya dimulai jam 10 pagi. Bersama saya, di dalam avanza silver itu, ada seorang guru yang sangat sabar; Pak Daris, dan seorang murid senior (satu hari lebih dulu belajar dari saya); Mas Wanda.
Kaget bukan main karena ternyata langsung belajar di jalan raya. Langsung disuruh ngejalanin mobil di jalan yang penuh mobil...wahaha...mabok bae' deh. Untunglah hari pertama ini berjalan cukup baik, gak terlalu malu-maluin lah paling nggak. Hanya saja merasa super-kagok-banget-sehingga-nyetirnya-ngaco kalo udah masuk ke jalanan yang rame. Selain dibawa ke jalan raya, rupanya tema utama hari ini adalah belajar belokin dan puterin mobil. Jadi Pak Daris membawa kami ke jalanan sepi yang banyak belokannya. Jalan dikit, belok, jalan dikit belok muter...gitu aja melulu.
Evaluasi: 1). Stir mobil pengennya diarahin ke kiriii melulu, lantaran jiper ngeliat mobil dan motor yang seliweran dari sebelah kanan, apalagi spion kiri adalah salah satu bagian mobil yang suka kelupaan ditengok. 2). Belom bisa maen perasaan waktu injek gas, kadang terlalu hot nginjeknya sehingga dikatain tukang ngebut sama gurunya, dan kadang malah jalannya kayak siput lantaran gasnya bukan diinjek tapi 'dibelai' (takut dibilang tukang ngebut). 3). bingung kalo udah harus belok di jalan raya; lupa sama lampu sen, lupa ngebelokin mobil, bingung harus ngegas ato ngerem ato injek kopling.
Tapi kayaknya gayaku pas nyetir oke juga.. Memang....style is number one..hehehe.

Hari kedua:
Awalnya parah banget nyetirnya. Kesalahan-kesalahan di hari pertama ada semua di hari kedua. Mana hujan lagi, jadi gak nyaman banget ngeliat ke jalannya. Tema hari ini adalah belajar melewati polisi tidur. Jadi sesudah Pak Daris puas menyiksa kami di jalan raya , kami pergi ke daerah yang isinya polisi tidur melulu. Itu looh, di daerah senayan bintaro masih ke sanaan lagi, sesudah global jaya itu loooh, yang jalannya mulus dan lebaaar tapi jeglak-jegluk melulu. Awalnya bloon banget. Tapi lama-lama, setelah melalui waktu yang serasa seperti 5 tahun, agak sedikit tidak terlalu oon lagi mrgreen.
Evaluasi: 1). kesalahan-kesalahan di hari pertama masih sering dilakukan. 2).kalo pas ada polisi tidur, suka belom pas memperhitungkan kapan harus injek rem dan lepas rem, atau kapan perlu injek kopling atau enggak, dan saking lembutnya menekan gas (takut dibilang suka ngebut), mobilnya suka gak jalan...hehehe...
Sempet stressed out sebentar saat tadi baru keluar dari tempat les untuk nyetir di jalan raya dalam keadaan hujan deras (saya sadar banget kalo posisi tubuh saya tegak setegak-tegaknya dengan jari-jari tangan yang mencengkeram erat stir). Walau demikian, teuteup doong...gayanya mah cool.

Mudah-mudahan hari ke-3 besok lebih baik lagi.
Harus latihan sendiri dulu ah pagi-pagi besok.

Tikus Mati di Atas Kursi


Semalam, tiba-tiba saja Si Bungsu jejeritan sambil lari (plus sedikit loncatan) ke kamar. Kebetulan penghuni rumah ini lagi lengkap berkumpul; ayah, mama, saya, Si Tengah, Si Bungsu. Kami semua sih santai saja menanggapi teriakan Si Bungsu--yang anak cowok satu-satunya dan berbadan paling besar pula--karena sudah bisa menebak apa kira-kira sumber masalahnya.

Tuh kan betuul...ternyata penyebab munculnya "suara geledek" di dalam rumah itu adalah....TIKUS...

Si bungsu menemukan seekor tikus mati. Seluruh penghuni rumah gak ada yang berani ataupun sudi untuk sekedar mendekat. Semuanya cuek aja melingker di atas kasur.
Tinggal saya yang penasaran ingin melihat TKP-nya.

Ternyata memang agak parah juga ya, karena si tikus--yang sepertinya masih berusia remaja-- mati secara mengenaskan di atas kursi meja makan. Kenapa mengenaskan? Karena matinya dalam keadaan mulut terbuka. Ini pasti ulah kucing-kucing saya yang hanya untuk iseng saja mempermainkan binatang kecil itu
.cry

Maafkan saya tikus kecil, karena bukannya bersedih dan mendoakanmu, saya malah ketawa ngakak melihat jenazahmu. Salahkan sosokmu yang mati dengan posisi terlentang sehingga perut buncitmu itu bebas memamerkan diri. Salahkan gigi-gigi kecil dan panjangmu itu yang nongol dengan suksesnya melalui mulutmu yang terbuka.

Tikus kecil dengan gigi-gigi nongol yang putih bersih, selamat jalan ya..
Maafkan saya juga karena gak memakamkanmu secara layak lantaran tanah dipekarangan rumah sudah di-ubin dan di-batu semua sama Ayah.

Monday, November 3, 2008

Kupinjamkan Telingaku Demi Hanamasa

Hari ini seorang sahabat laki-laki berhasil menculikku dengan halus.
Temanya adalah buka bersama demi sebuah curhatan tentang patah hati.

Sahabat : Jeng, ketemuan yuk. Saya ke rumah ya?
Saya : Ada apa?
Sahabat : Ada yang mau diceritain. Nerusin curhat yang semalem.
Saya : Oh. Ayo aja lah. Sekalian buka di luar?
Sahabat : Boleh
Saya : Dimana?
Sahabat : You pick the place
Saya : Hanamasa?
Sahabat : Oke
Saya : (dalam hati) horee ditraktir!!

Siang ini udara panas. Dapur pun panas. Menghabiskan beberapa saat di depan kompor dan oven untuk membuatkan spaghetti, macaroni, dan garlic bread khusus pesenan ayah, rupanya sudah membuat badan ini cukup lemas.
Gak terasa hari semakin sore, tapi badan ini masih lemas juga. Sampai si sahabat menjemputku dengan motornya, dan dengan lunglai aku naik ke itu motor. Males banget harus keluar rumah. Bener-bener lagi gak mood untuk dengerin curhatan orang. Tapi demi hanamasa gratis, kusediakan telingaku bagimu sahabatku .

Sampai di suatu mol (OMG...si lala ke mol?!?!), kami sempet ngabuburit sekitar 15 menit di Gramedia, setelah sebelumnya sempet beli 2 botol pocari sweat untuk ngebatalin puasa. Adzan berteriak-teriak melalui speaker gramedia. Kami berdua memperkosa botol pocari sweat dengan rakus sambil mencari-cari musholla untuk magrib-an dulu.

Buka sudah, magrib pun sudah. Tinggal perut ini yang dibuat senang. Hanamasa sudah melambai-lambai dari kejauhan.
Ups..ternyata masih penuh. Kami kebagian nomor antri ke-14. Ini betul-betul antri namanya. Sambil menunggu antrian selama 3/4 jam, sahabatku itu sempet mencoba curcol (curhat colongan) beberapa kali, yang--dengan kejamnya--hanya kutanggapi sekadarnya.
Baru setelah meja didapatkan, shabu-shabu dan yakiniku di depan mata, curhatnya mulai kudengarkan dengan riang gembira.

Curhat ini adalah curhat yang panjang, karena baru jam 9-an kami akhirnya cabut dari situ.
Perut udah kenyang walaupun curhat belum juga selesai. Sudah mondar-mandir sering sekali untuk isi ulang thai tea dingin dan ice lemon tea. Tapi ternyata curhatnya memang belum juga digenapi. Jam setengah sembilan, aku masih mencoba bertahan, karena sekali lagi....kupinjamkan telingaku ini demi makan di hanamasa, sahabatku.

Dan datanglah waktu untuk transaksi pembayaran.
Saya : Saya gak bawa uang cash, jadi pake kartu saya aja dulu ya?
Sahabat : Gak usah..saya ada uang cash kok
Saya : Iya, nanti saya ganti yang bagian saya
sahabat : (senyum2 aja)

Sesudah pembayaran
Saya : ke BCA dulu yuk, ambil uang
Sahabat : yuk

Beberapa jenak kemudian
Saya : Nih, uang makanku tadi
Sahabat : Ah gak usah deh
Saya : (basa-basi) gapapa kok...aku ga enak sama kamu
Sahabat : Biar saya aja yang traktir
Saya : (tetep basa-basi) Jangan ah, saya gak enak
Sahabat : (senyum sambil ngambil itu uang)
Saya : (dalam hati) loh kok diambil sih uangnya?
Sahabat : yakin nih? Kalo udah masuk dompet gak bisa keluar lagi loh uangnya
Saya : (dengan hati yang mengkeret, gelisah) iyah..gak papah
Sahabat : (tetep senyum) ya udah, makasih ya. Lain kali saya traktir kamu deh
Saya : (dalam hati) yaaaaaaahhh....tau gitu mah tadi dengerin
curhatannya di warteg ajeee...


Pelajaran yang bisa ditarik: Gak usah pake gengsi-gengsian deh kalo di depan cowok....uuuh...sering banget kejadian gini terjadi karena kegedean gengsi.

-Dialami dan ditulis (lagi-lagi) saat Ramadhan 2009.

Sayur Asem Kiriman Tetangga


Sungguh beruntung tinggal di perumahan ini. Terletak di perbatasan Tangerang - Jakarta Selatan, perumahan ini adalah perumahan kelas menengah dan sering banjir, sehingga kini tanggulnya dibuat tinggi dan panjang seperti Tembok Cina. Penghuninya kebanyakan adalah pendatang dari berbagai daerah, terutama Jawa. Keadaan ekonomi penghuninya terlihat makin membaik, dengan keadaan rumah yang kian direnovasi dan mulai padatnya hunian ini dengan kendaraan. Kehidupannya masih guyub, dengan hubungan pertetanggan yang masih kental. Satu sama lain saling kenal dan interaksinya intens. Warung-warung boleh dihutangi, dan antar tetangga saling membantu. Dalam rangka hajatan atau pun musibah, warga sekitar rumah langsung turun membantu tanpa diminta. Pun ketika garam atau nasi habis, para ibu biasa saling menyediakan. Tak ketinggalan, sebagian warga di sini pun senang sekali bertukar makanan. Saling kirim makanan adalah hal yang wajar. Saling mengundang untuk makan rame-rame sudah biasa. Bahkan numpang makan di rumah tetangga pun ada yang oke-oke saja.

Sore kemarin, saya dan keluarga mendapat rezeki besar. Tetangga kami yang ramah--keluarga Widji--punya masakan yang bikin keluarga kami merem-melek. Masakannya biasa saja--sayur asem lengkap--tapi rasanya...mmmhhh...T-O-P.

Bu Widji orang Jawa, tetapi sayur asemnya adalah sayur asem versi Betawi yang dimodifikasi. Isinya tidak secampur-aduk sayur asem Betawi yang sungguhan, tapi juga tidak manis seperti sayur asem Jawa dan tidak berkuah merah (karena cabai) ala Sunda. Sayur asem Bu Widji tidak manis, tidak pahit (karena pare, seperti versi Betawi sungguhan), tapi segar. Belum lagi kalau di dalam sayur asemnya ditambah sedikit tetelan daging untuk memberi citarasa kaldu. Isi sayur asemnya pun standar saja, yaitu: daun melinjo, melinjo, kacang tanah kupas, kacang tanah kulit, labu siam, kacang panjang, jagung manis, dan yang terakhir (dan tidak ada dalam sayur asem-ku) adalah terong bulet. Lalu jangan tanya tentang sambal terasinya....wuih dahsyat!! Ditambah dengan ikan asin dan lalapan. Bonusnya pun tak kalah menawan, yaitu pepes ikan....mmhh..lengkap sudah kebahagiaan berbuka puasa.

Segera saja 'sesajen' balasan berupa otak-otak ikan bandeng oleh-oleh dari Surabaya langsung diantar ke rumah Ibu Widji melalui tembok pemisah rumah yang pendek.

-dialami dan ditulis pada Ramadhan 2009

Digigit Anjing (lagi)

Photobucket

Sebagai pecinta binatang, digigit binatang seharusnya bukan hal yang aneh lagi. Dari kecil, udah gatau deh seberapa seringnya saya digigit atau kena cakar binatang. Salah satu yang paling parah adalah ketika muka saya dicakar kucing saat balita. Lalu juga sewaktu digigit anjing sampe bajunya robek-robek dan betis berdarah-darah ketika SD. Inget banget waktu itu saya sampai nangis jejeritan karena betis saya yang okeh ini gakmau dilepas juga sama itu anjing sarap, walaupun kaki saya udah dihentak-hentak sekuat tenaga. Dan anehnya, melihat anak kecil jerit-jerit digigit anjing, orang-orang pada ngeliatin aja dengan melongo…dasar orang bintaro sektor 2 !!
Belum lagi gigitan-gigitan dan cakaran-cakaran lain yang memang sudah seperti koleksi tato bagi saya. Sampai kini pun kulit ini rasanya gak pernah mulus, adaaa aja luka-nya.

Untungnya gigitan, cakaran, tendangan itu gak bikin saya kapok ngedeketin binatang, sampe sekarang. Dan akhirnya tadi sore, saya kembali digigit sama anjing dengan mantabnya.

Anjingnya tetangga sebelah rumah saya lucu banget. Bruno namanya. Tadi itu saya gak tahan ngeliat badannya yang buntek dan ekornya yang melingkar lucu, seperti anjing Shiba dari Jepang. Warna bulunya coklat, dan perawakannya sedang, entah anjing jenis apa dia. Dari jauh, memang sudah keliatan rada agresif nih wataknya. Makanya si majikan selalu megangin rantainya kencang-kencang saat Bruno diajak jalan-jalan. Konon, rantainya sudah berulangkali putus, saking mustang-nya tuh anjing. Yah, karena gak kuku ngeliat betapa lucunya dia walopun melonjak-lonjak dengan sangat agresif, akhirnya saya elus-elus kepalanya. Sampai gak bisa menahan diri untuk memintam ujung rantainya, dengan maksud mau ngajak Bruno jalan-jalan malam.

Apa daya, belum sampai dua lankah, tiba-tiba Bruno berbalik dan “Graukkkss!!”, menggigit betis ini dengan nikmatnya sampai celana kesayanganku robek. Belom puas, dia incer bagian perut, tapi…..ups meleset, sehingga hanya berhasil menggigit kaosnya saja (hayooo kata siapa perutku buncit?!?!?).

Bagaimana rasanya?? uuuh jangan tanya…sakiiit. Tapi karena gengsi dan merasa diri sebagai jagoanwati, yaah muka ini disetel cool aja kayak gak pernah kesenggol Bruno sedikitpun. Malah sempet ngobrol-ngobrol dulu sama majikannya Bruno.

Ah..bruno…bruno…emang eike hot banget ya sampe situ gak kuku pingin gigit?

Rumah keduaku : Rumah Sakit Internasional Bintaro

Sudah hampir tiga minggu ini saya punya rumah kedua, atau sebut saja apartemen saya yang baru. Tiada lain dan bukan adalah Rumah Sakit Internasional Bintaro (disingkat RSIB). Hampir tiap hari saya bolak-balik ke rumah keduaku itu, bahkan seringkali nginep di sana.

Ceritanya si Ayah masuk rumah sakit sejak tanggal 11 Agustus. Sakitnya demam berdarah, ato mari kita panggil saja dengan DB, biar lebih akrab, biar seperti DJ ato VJ. Berhubung DBnya cukup parah, saya dan keluarga harus piket jaga. Si bungsu sekolah, jadi dia gak bisa standby. Jadi tinggal mama, saya dan si tengah. Mama keukeuh jagain ayah tiap malam (sooo sweet), karena memang keinginan beliau dan karena si ayah itu manja banget sama mama. Jadilah saya dan si tengah bergantian jaga tiap pagi dan siang. Walau begitu, tiap hari pasti kami nongolin muka di rumah kedua itu. Setelah beberapa hari di sana, kami sempet ngalamin tujuh belasan dan nonton upacara bendera (kebiasaan keluargaku pas 17an adalah nonton upacara bendera di tv) di apartemen kami baru, trus nginep sekeluarga di rumah sakit pas malam sabtu, dan rombongan keluarga yg udah kayak arisan ngejenguk ayah gak berenti-berenti. rame..

Berita baik datang, ayah boleh pulang tanggal 18 agustus….hore!!
Walau begitu, keadaannya belum pulih benar. Ayah masih harus bed rest selama seminggu-an. Belum lama saya merasakan nikmatnya tinggal dan leyeh-leyeh di rumah kami yang beneran, eh si bungsu sakit dan harus masuk RS juga sejak tanggal 22 Agustus–pas ulangtaun mama. Tebak sakit apa?! DB lagih…uuh, centil banget tuh si eneng aedes.

Jadilah jadi, saya kembali merasakan hembusan angin ac terus-menerus dan wangi RSIB yang khas setiap hari. Sebagai pengangguran sejati, kali ini sayalah satu-satunya yang bisa sering-sering jaga si bungsu di RS. Kata dokter Badar yang ganteng itu DB-nya si bungsu juga termasuk yang parah, sama kayak si ayah.
Kali ini bener-bener tiap hari ada di RSIB. Setiap hari pulang-pergi. Kadang dateng sore, pulang pagi. Kadang dateng pagi, pulang malam. Bawaanya juga banyak. Tas gede selalu dibawa-bawa, ceritanya biar bisa ngerjain kerjaan di sana (walopun akhirnya malah nge-game).

Untunglah saya sih lumayan betah-betah aja, karena tau sendiri lah HBO kan selalu wokeh filmnya, ato kalo bosen baca novel, ato kalo bosen buka game, ato kalo bosen ya tidur, ato kalo bosen jalan-jalan di bawah, ato kalo bosen ya…naek ojeg dan pulang :) Tidurpun nyamaaan…karena sofanya empug banget (gak kaya di rumah..hehe). Kalo nginep sendirian, tinggal tidur aja di sofa pake bantal dan slimut yang tersedia. Kalo nginepnya berdua, sofanya tinggal dibuka dan muncullah kasur putih yang walopun dari besi tapi tampangnya kurang meyakinkan kalo mengingat ukuran bodi saya. Ato kalo nginepnya rame-rame, gelar tiker, gelar karpet, turunin kasurnya, turunin bantal sofa yg gedhe2…slimutan…bobo deh…hehehe…dasar ndesooo…

Saya dan keluarga saya yang heboh bin ribet itu pun gak ketinggalan bawa peralatan lengkap ke rumah sakit. Sampe-sampe ngeliat tas yang numpuk waktu pertama masuk RS, mungkin orang-orang bingung..ini teh mau masuk rumah sakit ato berlibur seminggu di Bali sekeluarga?

Peralatan makan dari sendok, piso, garpu,piring, mangkok, gelas lengkap terbawa. Gak lupa teh, kopi, dan aneka cemilan sehat. Tiker dan kerpet turki tipis juga ada, in case tamu-nya serombongan kayak arisan dan gak kebagian duduk di sofa kamar. Beberapa kali malah sampe bawa juicer, dan barusan si ayah telpon minta dibawain kompor listrik…duuh. Pernah kepikiran mau buka warung aja sekalian di kamar, jualan indomie, jus, buah…lumayan lah biar bisa balik modal lol.

-dialami dan ditulis sebelum Ramadhan 2009